Sebagai upaya melindungi masyarakat dari ancaman penyakit Japanese Encephalitis (JE) Puskesmas Godean Satu bersama Pemerintah Kalurahan Sidoluhur menggelar program imunisasi yang menyasar anak-anak usia 9 bulan hingga 14 tahun 11 bulan 29 hari pada hari Jumat, 27 September 2024 bertempat di pendopo Kalurahan Sidoluhur. Imunisasi dilaksanakan untuk posyandu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) di seluruh wilayah Sidoluhur, sementara untuk anak usia SD dilakukan di sekolah masing-masing.

Pelaksanaan imunisasi di Kalurahan Sidoluhur ini diawasi langsung oleh Panewu Kapanewon Godean, Rohmiyanto A.P. yang hadir di lokasi dan didampingi Lurah serta Kamitua Sidoluhur untuk memantau jalannya kegiatan. Program imunisasi JE ini didukung penuh oleh pemerintah dengan harapan dapat melindungi generasi muda dari risiko penyakit yang mengancam kesehatan otak

Imunisasi JE bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit berbahaya yang ditularkan oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus, yang kerap menggigit pada malam hari. Penyakit ini menargetkan otak, menyebabkan peradangan yang bisa berakibat fatal. Menurut para ahli kesehatan, tidak ada obat spesifik untuk JE, sehingga vaksinasi menjadi langkah pencegahan paling efektif.
____________________________________
#KalurahanSidoluhur
#KapanewonGodean
#KabupatenSleman
#PemerintahKalurahanSidoluhur

2 thoughts on “Imunisasi Japanese Echepalitis (JE) Kalurahan Sidoluhur”
  1. Artikel ini sangat bermanfaat karena membahas pentingnya imunisasi Japanese Encephalitis sebagai upaya pencegahan penyakit berbahaya. Dari sudut pandang psikologi, kegiatan ini menunjukkan pentingnya kesadaran dan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan, khususnya melalui vaksinasi. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga berperan penting dalam meningkatkan partisipasi imunisasi. Menurut saya, kegiatan seperti ini sangat positif karena dapat melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari risiko penyakit serius.

  2. artikel mengenai pelaksanaan imunisasi Japanese Encephalitis (JE) di Kalurahan Sidoluhur ini menyoroti aspek manajemen kecemasan kesehatan (health anxiety management), efikasi diri protektif (protective self-efficacy), dan kepatuhan kesehatan preventif (preventive health compliance).

    Secara teori psikologi kesehatan (Health Belief Model), keputusan orang tua untuk membawa anak-anak mereka mengikuti imunisasi JE sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kerentanan (perceived susceptibility) dan keparahan (perceived severity) dari penyakit radang otak tersebut. Penyakit JE yang ditularkan lewat gigitan nyamuk dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang fatal atau kecacatan permanen pada anak. Ketika pemerintah kalurahan dan petugas kesehatan berhasil mengedukasi masyarakat mengenai risiko nyata ini, kecemasan laten orang tua ditransformasikan menjadi motivasi prososial yang adaptif. Kesadaran bahwa imunisasi merupakan proteksi paling efektif meningkatkan keyakinan bahwa tindakan preventif ini sebanding dengan usaha yang dikeluarkan (perceived benefits), mengatasi hambatan psikologis seperti rasa takut akan efek samping atau KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

    Dari sudut pandang psikologi perkembangan dan pengasuhan, kehadiran orang tua dalam mendampingi anak saat disuntik melibatkan dinamika regulasi emosi yang intens. Anak-anak secara alami memiliki kecemasan terhadap rasa sakit fisik atau jarum suntik (trypanophobia). Pada momen ini, orang tua berfungsi sebagai co-regulator emosi anak. Ketenangan, pelukan, dan validasi emosional yang diberikan oleh orang tua di meja imunisasi menciptakan rasa aman psikologis (psychological safety) yang membantu mereduksi stres kognitif dan ketakutan akut pada anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *