Setelah berakhirnya masa pengabdian Mahasiswa KKN UNY di padukuhan Berjo Kidul pada hari Jumat 25 September 2024 Universitas Negeri Yogyakarta resmi menarik 10 Mahasiswa KKN periode Juli-September 2024 bertempat di ruang rapat Kalurahan Sidoluhur
Dalam sambutannya, Lurah Sidoluhur Hernawan Zudanto, S.E mengucapkan “apresiasi kepada Mahasiswa yang telah melaksanakan KKN di Kalurahan Sidoluhur yang mana kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa untuk dapat menambah wawasan, pengetahun dan sedikit banyak membantu peningkatan pembangunan bagi masyarakat di Padukuhan Berjo Kidul. Kami berharap pada tahun tahun selanjutnya masih ada keberlanjutan yang akan di tugaskan untuk melaksanakan kegiatan KKN di Kalurahan kami”
Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan program kerja oleh perwakilan tim selama menjalani KKN. Kegiatan berakhir dengan foto dokumentasi bersama.
____________________________________
#KalurahanSidoluhur
#KapanewonGodean
#KabupatenSleman
#PemerintahKalurahanSidoluhur

Artikel ini sangat menarik karena menggambarkan kegiatan penarikan mahasiswa KKN sebagai penutup dari proses pengabdian kepada masyarakat. Dari sudut pandang psikologi, kegiatan ini menunjukkan pentingnya interaksi sosial, kerja sama, dan pengalaman emosional yang terbentuk selama KKN berlangsung. Selain itu, momen penarikan juga menjadi refleksi atas pengalaman yang telah diperoleh mahasiswa di lapangan. Menurut saya, kegiatan ini sangat bermanfaat karena dapat membentuk karakter, empati, dan kemampuan sosial mahasiswa.
artikel mengenai penarikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Kalurahan Sidoluhur ini menyoroti aspek refleksi diri pencapaian (achievement reflection), pengelolaan emosi perpisahan (grief and closure management), dan transformasi identitas diri.
Secara teori psikologi pendidikan dan kognitif, momen penarikan atau penutupan masa KKN merupakan fase penting untuk melakukan evaluasi berbasis pengalaman (experiential reflection). Setelah berminggu-minggu menjalankan program kerja di lapangan, prosesi penarikan formal ini menjadi jangkar kognitif bagi mahasiswa untuk menyadari sejauh mana kompetensi diri mereka telah berkembang. Meninjau kembali keberhasilan maupun hambatan proyek yang telah dilewati secara psikologis meningkatkan efikasi diri (self-efficacy) mereka. Mahasiswa mengalami pergeseran konsep diri dari yang semula hanya memandang diri sebagai “pelajar teoritis” menjadi agen perubahan yang memiliki kapabilitas riil (sense of competence) di tengah masyarakat.
Dari sudut pandang psikologi sosial dan emosi, fase perpisahan ini melibatkan dinamika ikatan emosional (emotional attachment) yang kompleks antara mahasiswa dan warga desa. Interaksi intensif harian yang telah terbangun menciptakan rasa saling memiliki (sense of community). Oleh karena itu, acara penarikan formal berfungsi sebagai media closure (penyelesaian emosional) yang sehat. Ekspresi rasa terima kasih, haru, dan apresiasi timbal balik membantu mengonversi kesedihan perpisahan menjadi emosionalitas positif yang bertahan lama.