Sebelum pemakaman (pembuatan liang lahat) Surtanah merupakan pemendekan dari kata ngesur tanah, bermakna membuat pekuburan. Tradisi surtanah adalah selamatan dilaksanakan usai prosesi pemakaman, dan dihadiri oleh keluarga, tetangga, teman dekat almarhum sekaligus pemuka agama. Surtanah bisa berarti ritual sesaji bedhah lemah atau bedah bumi bertujuan agar arwah yang meninggal dunia mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.
Dalam prosesi upacara surtanah ada beberapa perlengkapan sesaji yang harus disediakan. Masyarakat Jawa membagi prosesi perlengkapan sesaji atau ubarampe dalam dua tingkatan sosial;
Golongan bangsawan, disiapkan ;
tumpeng asahan lengkap disertai lauk, sayur dingin dan tidak boleh pedas pecel dengan sayatan ayam goreng atau ayam panggang, krupuk, sayur menir, sambal dengan kedelai yang dikupas, rempeyek, nasi golong (nasi dibentuk bola), nasi gurih, pisang raja, dan tumpeng ukur-ukuran.
Golongan rakyat jelata, disiapkan ;
tumpeng disertai lauknya, ingkung ayam panggang, nasi golong, nasi asahan (nasi putih diletakkan di atas nyiru), tumpeng pungkur (nasi dibentuk kerucut), tumpeng langgeng, kembang setaman, pisang sajen, sirih (kinang), tembakau, dan uang bedhah lemah (diberikan kepada pemimpin tahlil).
